Lokasi Pengunjung Blog
Kamis, 07 Mei 2009
Seputar Larangan Merokok..., Kata Pengantar Dimas Anto Mbako
Semua artikel yang terkait dengan itu akan berlabel: Seputar Larangan Merokok.
Gitu deh…
Salam, Dimas Anto Mbako
Rabu, 11 Februari 2009
Cengkeh...
Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh hingga tinggi 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5-2 cm.
Selain dipakai sebagai bahan pembuat rokok kretek, cengkeh juga dapat digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkeh digunakan di aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi.
Di jaman Romawi , cengkeh, pala dan merica sangat mahal. Di abad pertengahan cengkeh menjadi bahan tukar menukar oleh bangsa Ara. Pada akhir abad ke-15, orang Portugis mengambil alih jalan tukar menukar di Laut India. Bersama itu diambil alih juga perdagangan cengkeh dengan perjanjian Tordesillas dengan Spanyol, selain itu juga dengan perjanjian dengan sultan dari Ternate. Orang Portugis membawa banyak cengkeh yang mereka peroleh dari kepulauan Maluku itu ke Eropa. Pada saat itu harga 1 kg cengkeh sama dengan harga 7 gram emas. Perdagangan cengkeh akhirnya didominasi oleh orang Belanda pada abad ke-17.
Orang Prancis dengan susah payah akhirnya berhasil membudidayakan pohon cengkeh di Mauritius pada tahun 1770. Akhirnya cengkeh ditanam di Guyana, Brasil dan Zanzibar.
Gitu deh…
Senin, 08 Desember 2008
NIKOTIN...
Sebuah bahan kimia otak termasuk dalam perantara keinginan untuk terus mengonsumsi, yakni neurotransmiter dopamine, dalam penelitian menunjukkan bahwa nikotin meningkatkan kadar dopamine tersebut. Efek akut dari nikotin dalam beberapa menit menyebabkan perokok melanjutkan dosis secara frekuentif per harinya sebagai usaha mempertahankan efek kesenangan yang timbul.
Biasanya perokok menghisap minimal 10 hisapan dalam sebatang rokok setiap satu periode lima menit. Karena seorang penggebis merokok sekitar 30 batang setiap hari berarti memasukkan lebih kurang 300 hisapan nikotin ke otak setiap harinya. Faktor inilah yang menunjang ketagihan terhadap nikotin.
Nikotin itu sendiri dalam metabolisme sesungguhnya dapat menghilang dari tubuh dalam beberapa jam. Sayangnya jika menghentikan masukan nikotin biasanya diikuti dengan reaksi ketergantungan (withdrawal syndrome) yang mungkin membutuhkan waktu sekitar satu bulan atau lebih untuk kembali normal. Gejalanya antara lain muncul sifat lekas marah/terlalu sensitif, sangat membutuhkan/kecanduan, pengurangan fungsi kognitif tubuh dan pemusatan perhatian, serta terjadi gangguan tidur serta nafsu makan bertambah.
Akibat yang terjadi kemudian adalah reaksi ketagihan atau keinginan kuat untuk mendapatkan nikotin, sehingga muncul masalah utama kesulitan untuk pantang merokok. Untuk sebagian orang menyentuh tembakau dan melihat rokok mengingatkan pada kebiasaan merokok yang pernah dilakukan dan ini membuatnya kembali ingin merokok...
PROSES PEMBAKARAN ROKOK...
Proses pembakaran rokok tidak berbeda dengan proses pembakaran bahan-bahan padat lainnya. Rokok itu sendiri secara sederhana dapat diformulasikan sebagai berikut: er-o-RO, keh-o-KOK, rokok!
Ada dua reaksi yang terjadi dalam proses merokok. Pertama adalah reaksi pembakaran pada temperatur tinggi, diatas 800 C. Reaksi ini terjadi di bagian ujung rokok yang membara. Reaksi kedua adalah reaksi pemecahan struktur kimia rokok menjadi senyawa kimia lainnya. Reaksi ini terjadi akibat pemanasan dan keabsenan oksigen. Reaksi ini lebih dikenal dengan nama pirolisa. Pirolisa berlangsung pada temperatur yang lebih rendah dari 800 C. Maka dari itu pirolisa terjadi pada bagian dalam rokok yang berada pada area bersuhu 400-800 C. Ciri khas reaksi ini yaitu menghasilkan ribuan senyawa kimia yang strukturnya komplek.
Walaupun reaksi pirolisa tidak dominan dalam proses merokok,tetapi banyak senyawa yang dihasilkannya tergolong sebagai senyawa kimia beracun yang mampu berdifusi dalam darah. Tidak perlu disangkal lagi bahwa titik bahaya merokok adalah pada produk reaksi pirolisa ini. Sebenarnya produk pirolisa ini bisa terbakar bila produk melewati temperatur yang tinggi dan cukup oksigen. Namun hal itu tidak terjadi dalam proses merokok karena proses sedot atau hirup, gas produk pirolisa langsung mengalir ke arah mulut kita yang hangat, bersuhu sekitar 37 derajat Celicius.
Selain reaksi kimia, juga terjadi proses penguapan uap air dan nikotin yang berlangsung pada temperatur antara 100-400 C. Nikotin yang menguap di daerah temperatur itu tidak memperoleh kesempatan untuk melalui temperatur tinggi dan tidak melalui proses pembakaran. Terkondensasinya uap nikotin di dalam gas tergantung pada temperatur, tergantung juga pada konsentrasi uap nikotin dalam gas dan geometri saluran yang dilewati gas.
Pada temperatur dibawah 100 C nikotin sudah mengkondensasi. Jadi sebenarnya sebelum gas memasuki mulut, kondensasi nikotin telah terjadi. Namun berdasarkan keseimbangan, tidak semua nikotin tersebut terkondensasi sebelum memasuki mulut. Ada gas atau asap yang menyelinap masuk ke paru-paru masih mengandung nikotin. Sesampainya di paru-paru, nikotin akan mengalami keseimbangan baru, dan akan mengendap disitu, bikin hidup lebih redup, katanya.
Untuk menekan resiko itu, pemerintah telah menetapkan batas maksimum kandungan nikotin maupun tar dalam batang rokok. Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 1999 menetapkan bahwa batas kadar maksimum kandungan nikotin dan tar pada setiap batang rokok yang beredar di wilayah Indonesia tidak boleh melebihi kadar kandungan nikotin 1,5 mg dan kadar kandungan tar 20 mg.
Namun penetapan batas kadar maksimum kandungan nikotin dan tar tersebut membutuhkan teknologi pengolahan yang canggih. Perusahaan rokok yang akan terpengaruh dengan ketentuan tersebut adalah perusahaan yang bersifat manual dan perusahaan rokok yang bersifat campuran yaitu manual dan machinal. Dampak penggunaan teknologi tersebut akan sangat mempengaruhi perusahaan rokok kretek yang umumnya diolah secara manual yang menghendaki cita rasa tradisional.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan telah menghasilkan varietas-varietas tembakau dengan kadar nikotin rendah (sekitar 2%) dibandingkan dengan yang umumnya saat ini digunakan antara 5 - 7%. Namun demikian penggunaannya oleh industri rokok memerlukan tenggang waktu sebelum dapat diterima oleh konsumen akibat perubahan rasa. Selain itu juga penggunaan teknologi canggih tersebut memerlukan persiapan sumber daya, sarana dan prasarana untuk pelaksanaannya.
Dalam Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan telah ditetapkan tenggang waktu untuk penyesuaian persyaratan batas kadar maksimum kandungan nikotin dan tar. Itu artinya sampai saat ini belum ada pengamanan. Apalagi persyaratan mutu untuk pengujian di laboratorium rokok, untuk rokok kretek secara resmi belum ada standarnya. Dan juga saus cengkehnya belum diatur porsinya. Wah….
(Jadi, perlu kiranya kita para perokok berat mempertimbangkan penggunaan "FILTER ROKOK atau PIPA FILTER ROKOK" yang modelnya beraneka macam itu. Apalagi dinyatakan bahwa filter rokok/pipa filter rokok tersebut bisa mengurangi kadar tar & nikotin, karena bentuk/geometri saluran pipa filter rokok itu, tanpa mengurangi sedikitpun rasa dan aroma...)
Piye Jal?
Anton Ciggy.
Selasa, 18 November 2008
Siasati Keborosan dengan "Linting Dhewe"
Landung Simatupang, salah seorang pemilik Kedai Mbako Tingwe Djogja di kompleks Tarakanita I/21 Gejayan, Santren, beberapa waktu lalu, menuturkan, tidak sedikit pelanggan yang cocok dan beralih pada rokok linting dhewe (tingwe), dari sebelumnya mereka mengonsumsi rokok kemasan yang dijual bebas. "Dengan melinting sendiri, penggemar berat rokok bisa menghemat hingga 60-70 persen. Harga rokok kemasan lebih mahal karena ada pajak rokoknya. Pajak tingwe hanya berupa pajak tembakau," ujar Landung.
Menurut Landung, cara ini cukup efektif bagi perokok yang belum bisa menghentikan kebiasaan 100 persen lantaran alasan ekonomi. Demikian pula masalah kesehatan, ia memiliki trik lain, yakni menyiasati dengan menyediakan buku-buku dan menempelkan brosur mengenai sejarah rokok hingga bahaya yang ditimbulkan lebih rinci pada dinding kedai. Dari situlah perokok bisa memperoleh tambahan pengetahuan sekaligus melakukan penghematan.
Ia mencontohkan, ada salah seorang pelanggannya yang masih kuliah di sebuah kampus di Yogyakarta yang berhasil menghemat biaya pengeluaran. Uang rokok sang mahasiswa yang mencapai Rp 400.000-an per bulan bisa ditekan kurang dari Rp 200.000.
Rasa sama
Meski menyediakan bahan mentah alias belum dilinting, tembakau yang ditawarkan Landung bukan sembarangan. Tembakau diperoleh dari paguyuban mantan peramu rokok yang sebelumnya pernah bekerja di pabrik rokok terkenal. Tembakau itu juga sama dengan rokok-rokok kemasan bermerek yang dijual bebas. "Para peramu inilah yang bisa menyediakan aneka bahan sesuai dengan rasa rokok kemasan," ujar Landung.
Rokok tingwe memang cara yang efektif untuk melakukan penghematan. Namun tidak semua perokok melirik produk yang satu ini. Roni, pedagang rokok kemasan di Nayan, Maguwoharjo, Sleman, mengatakan anak muda yang gaul biasanya akan memilih rokok kemasan yang dirasakan lebih praktis. "Melinting biasanya membutuhkan waktu dan tempat tertentu. Sedangkan anak muda biasanya lebih yang simpel-simpel," ujarnya.
(Anton Ciggy komentar: "Bagi penyelenggara, soal yang begitu itu bukan merupakan halangan melainkan tantangan. Dan itulah seninya... Piye Jal?")
sumber: http://www.kompas.com
Sabtu, 15 November 2008
Tingwe..., solusi
Lurs (para sedulur), berhenti merokok memang tidak mudah. Terlebih bagi kita perokok berat yang merokok tidak cukup sebungkus sehari. Celakanya, harga rokok bungkusan kini terasa tidak murah lagi. Daya beli kita telah merosot. Harga kebutuhan pokok seperti sandang dan pangan cenderung naik, begitu pula biaya pendidikan serta biaya transport. Tak dipungkiri semua itu menyulitkan dan sangat mengganggu keuangan kita, mengganggu keuangan keluarga.
Kita sudah sangat cerewet, seisi rumah tak henti-henti kita minta untuk hemat listrik, hemat air, hemat pulsa, hemat minyak, hemat bensin, hemat ini dan hemat itu. Tali pinggangpun sudah kita kencangkan erat-erat. Kita sudah berusaha berhemat sebisa mungkin. Tapi masih ada satu hal penting yang boleh jadi terlewatkan yaitu soal menghemat biaya rokok. Walahhh? Kita masih saja klepas-klepus ngrokok seperti biasa, sementara orang rumah, keluarga kita tercinta sedang pusing tujuh keliling mikirin uang beras untuk esok hari. Diomelin pun kita tidak mempan. Abis ngrokok…, enak sih!
Betul, berhenti merokok pancen susah, tapi merokok (yang mahal) terus…, bisa lebih menyusahkan. Lalu mengapa kita tidak mencoba solusi ini, mencoba berhemat dengan cara membuat rokok sendiri, membuat rokok TINGWE alias nglinting dewe (swa-linting).
Sudah terbukti rokok TINGWE bisa hemat lebih dari 60%. Berapakah itu? Misalkan kita biasanya merokok 2 bungkus atau menghabiskan dana Rp 15.000,- per hari. Se bulan Rp 450.000,- dan se tahun Rp 5.400.000,- Sementara biaya untuk membuat 2 bungkus rokok TINGWE paling pol cuma Rp 6.000,- Jadi se hari kita bisa menghemat uang sebesar Rp 9.000,- Sebulan hemat sebesar Rp 270.000,- dan se tahun hemat lebih dari Rp 3 juta.
Uang Rp 3 juta hasil penghematan se tahun itu sangat berguna untuk biaya sekolah, untuk bayar SPP anak kita di perguruan tinggi selama dua semester atau di SD, untuk sekian tahun. Atau untuk beli beras puluhan karung. Bisa juga untuk membeli baju baru, baju lebaran buat anak-anak. Pengeluaran transport pun terbantu. Atau kita bisa ngredit dan nyicil motor sendiri dll.
Lagian membuat rokok TINGWE sangat gampang dan tidak repot. Modalnya tembakau rokok, alat linting, papir atau kertas rokok, lem, dan filter. Caranya tidak jauh beda dengan cara kita mengirim SMS lewat handphone, pakai jari dan jempol. Hasilnya cakep alias kagak malu-maluin. Tampilan dan cita rasa tidak kalah dengan rokok filter-kretek made in pabrik. Bahkan kita dapat membuatnya sendiri sesuai selera. Pengin empuk ginuk-ginuk, pengin sekel-padet, pengin model slim atau tembem semua bisa diatur. Soal rasa…, bisa dibuat serasa rokok kegemaran. Repot? Kagak! Tidak lebih repot dibanding dengan kita ngupas kwaci. Malah asyik kok...
Anton Ciggy
Sebodo amat...
“SEBODO AMAT...”
Ada upaya pemerintah untuk memperkecil bahaya dengan membatasi kadar nikotin dan tar yang terkandung dalam rokok, tapi keberhasilannya masih memerlukan waktu lama karena keterbatasan tehnologi. Kalaupun itu nanti sukses, bagaimana dengan kadar cengkeh dalam rokok kretek? Apakah cengkeh dianggap sudah cukup aman bagi kesehatan sehingga tidak perlu ditata?
Ada pula yang bilang bahwa resiko merokok dapat dikurangi dengan menggunakan filter. Terbitlah kemudian rokok kretek filter. Sayangnya..., rokok kretek non filter masih terus saja diproduksi dan dijajakan. Ini menggambarkan ketidak pedulian para pengusaha rokok terhadap kesehatan konsumen.
Yang penting bagi mereka dagangan rokoknya laku. Perkara lain …., sebodo amat!
Piye Jal?
Anton Ciggy